Di sela kesendirian ku, ketika sedang off tidak ada pekerjaan, sehabis dhuha. Mendadak diriku teringat perjalanan sekitar 16 bulan lalu. ketika bersama istri, dan ibu serta mertua, mendapatkan kesempatan untuk berangkat memenuhi rukun islam ke 5.
"Ibadah haji, ityu diwajibkan bagi manusia" begitu kata salah satu pemberi materi manasik yang masih kuingat, Untuk meyakinkan para calon jamaah yang mungkin merasa kurang pengetahuan agamanya. Akhirnya saya damn keluarga yang tergabung dalam satu regu di roombongan 4 Kloter 52 SOC tahun 2013 berangkat meninggalkan tanah air.
Kebetulan satu regu kami, terdiri dari 11 orang, dengan perincian, saya, istri, mertua, ibu dan mertua saya, ditambah dua pasang suami istri, dan dua orang lagi lelaki tanpa mengajak istri.
Sebuah perjalanan yang sangat terkesang, dan masih mebayang di benak saya sampai saat ini.
Merasakan betapa Agung nya Baitullah. Bertemu dengan sesama muslim dari berbagai penjuru dunia.
Terkenang lagi diriku tatkala suatu ketika menunggu saat adzan ashar di pelataran ka'bah. Ketika seseoarang yang brusia sekitar 60 tahun, memberi salam. "Assala mualaikum?" kata Beliau. "Wa alaikumussalam." Jawabku. "Akhi, bisa kah anda menolong saya menelponkan anak saya?" Kata belia dalam bahasa Arab sembari menyerahkan handphone nya padaku. "Kamil nama anak saya." lanjutnya setelah saya memegang handphone Beliau. "Ok" Dan saya pun mencari nama tersebut di handset Nokia tipe senter. Seasaat setelah saya menelepon nomornya, Beliau pun asyik ngobrol dengan anak Bel;iau tersebuit dalam Bahasa Pakishtan, yang saya sendiri tak tahu artinya.
Lain waktu dikala menunggu adzan isya, di pelataran atas masjidil haram, ada lagi seorang dari Afghanistan. Seorang pemuda yang berusia sekitar 40 tahun. Dengan membawa laptopnya , dia berkata menerangkan, kepada kami 4 orang yang terdiri dari jamaah dari Indonesia dan Malaysia dan foto-foto yang dia simpan. tentang sebuah batas desa, senjata api sejenis senapan serbu yang dimiliki di keluarganya. "Sejak kecil, sampai usia saya sejauh ini saya belum pernah merasakan kedamaian."
Dan , pada saat lain, saya teringat akan cerita Alm bapak saya tentang perjalanan haji beliau, yang terasa beda pelayanan dari panitia, Namun intinya tetap sama. Para pelaksana pelayanan haji, selalu berusaha memberi pelayananmaksimal kepada para tamu Allah. baik di Makkah, maupun Madinah