Rabu, 07 Januari 2015

PERJALANAN INDAH

Di sela kesendirian ku, ketika sedang off tidak ada pekerjaan, sehabis dhuha. Mendadak diriku teringat perjalanan sekitar 16 bulan lalu. ketika bersama istri, dan ibu serta mertua, mendapatkan kesempatan untuk berangkat memenuhi rukun islam ke 5.
"Ibadah haji, ityu diwajibkan bagi manusia" begitu kata salah satu pemberi materi manasik yang masih kuingat, Untuk meyakinkan para calon jamaah yang mungkin merasa kurang pengetahuan agamanya. Akhirnya saya damn keluarga yang tergabung dalam satu regu di roombongan 4 Kloter 52 SOC tahun 2013 berangkat meninggalkan tanah air.
Kebetulan satu regu kami, terdiri dari 11 orang, dengan perincian, saya, istri, mertua, ibu dan mertua saya, ditambah dua pasang suami istri, dan dua orang lagi lelaki tanpa mengajak istri.
Sebuah perjalanan yang sangat terkesang, dan masih mebayang di benak saya sampai saat ini.
Merasakan betapa Agung nya Baitullah. Bertemu dengan sesama muslim dari berbagai penjuru dunia.
Terkenang lagi diriku tatkala suatu ketika menunggu saat adzan ashar di pelataran ka'bah. Ketika seseoarang yang brusia sekitar 60 tahun, memberi salam. "Assala mualaikum?" kata Beliau. "Wa alaikumussalam." Jawabku. "Akhi, bisa kah anda menolong saya menelponkan anak saya?" Kata belia dalam bahasa Arab sembari menyerahkan handphone nya padaku. "Kamil nama anak saya." lanjutnya setelah saya memegang handphone Beliau. "Ok" Dan saya pun mencari nama tersebut di handset Nokia tipe senter. Seasaat setelah saya menelepon nomornya, Beliau pun asyik ngobrol dengan anak Bel;iau tersebuit dalam Bahasa Pakishtan, yang saya sendiri tak tahu artinya.
Lain waktu dikala menunggu adzan isya, di pelataran atas masjidil haram, ada lagi seorang dari Afghanistan. Seorang pemuda yang berusia sekitar 40 tahun. Dengan membawa laptopnya , dia berkata menerangkan, kepada kami 4 orang yang terdiri dari jamaah dari Indonesia dan Malaysia dan  foto-foto yang dia simpan. tentang sebuah batas desa, senjata api sejenis senapan serbu yang dimiliki di keluarganya. "Sejak kecil, sampai usia saya sejauh ini saya belum pernah merasakan kedamaian."


Dan , pada saat lain, saya teringat akan cerita Alm bapak saya tentang perjalanan haji beliau, yang terasa beda pelayanan dari panitia, Namun intinya tetap sama. Para pelaksana pelayanan haji, selalu berusaha memberi pelayananmaksimal kepada para tamu Allah. baik di Makkah, maupun Madinah

Rabu, 03 Desember 2014

TOURING BERSEPEDA

Kemarin pagi, Rabu 3 Desember 2014 seperti hari yang lain juga , saya mengendarai sepeda ke tempat kerja. Ketika sampai menjelang gapura gerbang keluar Kota Cirebon tiba-tiba ada seseorang dengan suara perempuan, menyapa saya
"Selamat pagi, Pak"
"Selamat pagi " jawab saya.
eh, ternyata setelah sampai di depan saya, dia membawa muatan yang banyak. Seperti sedang dalam perjalanan jauh.

Akhirnya ku kejar dan bertanya pada Beliau asal dan tujuan perjalanan. Beliau jawab Bandung - Lombok. Karena saya sudah mau sampai di tempat kerja, pembicaraan saya akhiri dengan ucapan dan doa semoga lancar selamat. Dan, saya baru tersadar belum sempat berkenalan dengannya.
Berbekal foto ini pula saya akhirnya dapat info dan berkenalan dengan Beliau. Seoarang Srikandi Sepeda.
Ada yang mau menyusul ke Lombok?
Kalau memang yakin bisa silakan, tapi kalau saya sih, belum kepikir untuk tur sejauh itu. Perjalanan terjauh saya cuma Purwodadi - Semarang, sekitar 65 KM akhir tahun lalu, saat pekerjaan di Purwodadi selesai.
Kini saya sedang ada pekerjaan di Cirebon, akhir tahun nanti pekerjaan selesai. Masih punya keinginan untuk membawa pulang sepeda ke Semarang dengan dikendarai. Tapi sepertinya kok masih terlalu jauh jarak. Ada keinginan juga untuk sekedar sampai Jawa Tengah saja, atau sampai Kota Tegal.
Semoga bisa terlaksana.

Rabu, 26 November 2014

TENANGKAN HATI HADAPI HIDUP

Hidup memang penuh dengan liku-liku tidak selalu berjalan mulus, terkadang sudah kadang senang. Terkadang langit cerah, berawan, angin semilir, badai bahkan petir dan hujan lebat yang kita alami. Tapi yakinlah, dalam setiap keadaan pasti ada keindahan yang bisa kita rasakan.
Kadang kita melihat sepertinya orang lain hidupnya lebih enak, nyaman, dan serba kecukupan dalam memenuhi kebutuhan dan keinginan. Namun semua itu hanyalah bungkus yang kita lihat. Pun begitu adanya. Orang mungkin akan melihat kita hidup lebih enak, padahal sebenarnya semua orang bisa merasa bahagia, tergantung dari bagaimana bisa memunculkan "rasa" bahagia dalam diri sendiri.
Teringat saya pada sebuah kisah dari sebuah siaran radio, tentang Arti Bahagia.
Alkisah pada suatu ketika, belasan orang sukses, yang sudah mapan secara materi, berkumpul dan berencana menemui guru mereka di masa lampau. Mereka merasa orang-orang di sekitar mereka menganggap diri mereka sukses. Tapi mereka tidak pernah merasakan bahagia.
Ahirnya ketika mereka menghadap sang Guru. "Wahai Guru, kami ini adalah murid-muridmu dahulu. Kami beruntung mendapat ilmu dari Guru, sehingga sekarang kami menjadi orang. Namun ada yang kurang pada diri kami. Kami tidak pernah merasa bahagia." kata salah seorang dari mereka. "Tunggu sebentar" jawab sang Guru, seraya meninggalkan  mereka di ruang tamu. Sang Gurulalu masuk ke dalam rumah. Tak lama kemudian Beliau keluar dengan membawa gelas sejumlah lebih banyak dari jumlah murid yang hadir. Masing-masing gelas berbeda-beda. dari yang paling murah sampai yang paling mahal. Lalu belia masuk lagi dan keluar dengan membawa satu poci teh yang aromanya sangat nikmat. "Silakan ambil masing-masing satu gelas, lalu tuangkan teh ke dalam gelas yang telah kalian pilih." Kata Guru.
Para murid pun mengambil gelas masing-masing. Mereka saling memilih gelas yang berharga  mahal. Sementara gelas yang berharga paling murah, tidak ada yang mengambilnya.
Sang Guru kemudian tersenyum seraya mempersilakan murid-muridnya menikmati teh buatannya.
Setelah mereka selesai meminumnya, Sang Guru bertanya " Bagaimana rasa teh buatanku? apakah senikmat aromanya?" "Ya, Guru" Jawab mereka.
"Itulah hakekat bahagia. Menikmati isi yang ada dalam gelas, bukan dari gelas pebungkusnya. Meskipun kalian tadi mengambil gelas yan bebeda indah luarnya, berbeda harganya. Tapi kenikmatan isi teh tetaplah sama. Karena diambil dari poci yang sama dalam satu waktu. Bahagia BUKAN DILIHAT DARI BUNGKUSNYA, TAPI TERGANTUNG BAGAIMANA KITA MENIKMATI ISI HIDUP yang kita jalani." Sang Guru mengakhiri pembicaraanya

MULAI MASUK BLOG

Ternyata saya pernah mencoba membuat Blog, lama tak pernah atau tepatnya belum bisa membua. Akhirnya kini bisa membuka, semoga bisa menjadi ajang currahan isi hati, agar tak menyesakkan dada dan pikiran. Tapi untuk posting pertama ini, cukuplah sebagai perkenalan saja. Salam Kenal
Foto-foto ketika di seputaran kota Makkah Tahun 2013