Kemarin pagi, Rabu 3 Desember 2014 seperti hari yang lain juga , saya mengendarai sepeda ke tempat kerja. Ketika sampai menjelang gapura gerbang keluar Kota Cirebon tiba-tiba ada seseorang dengan suara perempuan, menyapa saya
"Selamat pagi, Pak"
"Selamat pagi " jawab saya.
eh, ternyata setelah sampai di depan saya, dia membawa muatan yang banyak. Seperti sedang dalam perjalanan jauh.
Akhirnya ku kejar dan bertanya pada Beliau asal dan tujuan perjalanan. Beliau jawab Bandung - Lombok. Karena saya sudah mau sampai di tempat kerja, pembicaraan saya akhiri dengan ucapan dan doa semoga lancar selamat. Dan, saya baru tersadar belum sempat berkenalan dengannya.
Berbekal foto ini pula saya akhirnya dapat info dan berkenalan dengan Beliau. Seoarang Srikandi Sepeda.
Ada yang mau menyusul ke Lombok?
Kalau memang yakin bisa silakan, tapi kalau saya sih, belum kepikir untuk tur sejauh itu. Perjalanan terjauh saya cuma Purwodadi - Semarang, sekitar 65 KM akhir tahun lalu, saat pekerjaan di Purwodadi selesai.
Kini saya sedang ada pekerjaan di Cirebon, akhir tahun nanti pekerjaan selesai. Masih punya keinginan untuk membawa pulang sepeda ke Semarang dengan dikendarai. Tapi sepertinya kok masih terlalu jauh jarak. Ada keinginan juga untuk sekedar sampai Jawa Tengah saja, atau sampai Kota Tegal.
Semoga bisa terlaksana.
Rabu, 03 Desember 2014
Rabu, 26 November 2014
TENANGKAN HATI HADAPI HIDUP
Hidup memang penuh dengan liku-liku tidak selalu berjalan mulus, terkadang sudah kadang senang. Terkadang langit cerah, berawan, angin semilir, badai bahkan petir dan hujan lebat yang kita alami. Tapi yakinlah, dalam setiap keadaan pasti ada keindahan yang bisa kita rasakan.
Kadang kita melihat sepertinya orang lain hidupnya lebih enak, nyaman, dan serba kecukupan dalam memenuhi kebutuhan dan keinginan. Namun semua itu hanyalah bungkus yang kita lihat. Pun begitu adanya. Orang mungkin akan melihat kita hidup lebih enak, padahal sebenarnya semua orang bisa merasa bahagia, tergantung dari bagaimana bisa memunculkan "rasa" bahagia dalam diri sendiri.
Teringat saya pada sebuah kisah dari sebuah siaran radio, tentang Arti Bahagia.
Alkisah pada suatu ketika, belasan orang sukses, yang sudah mapan secara materi, berkumpul dan berencana menemui guru mereka di masa lampau. Mereka merasa orang-orang di sekitar mereka menganggap diri mereka sukses. Tapi mereka tidak pernah merasakan bahagia.
Ahirnya ketika mereka menghadap sang Guru. "Wahai Guru, kami ini adalah murid-muridmu dahulu. Kami beruntung mendapat ilmu dari Guru, sehingga sekarang kami menjadi orang. Namun ada yang kurang pada diri kami. Kami tidak pernah merasa bahagia." kata salah seorang dari mereka. "Tunggu sebentar" jawab sang Guru, seraya meninggalkan mereka di ruang tamu. Sang Gurulalu masuk ke dalam rumah. Tak lama kemudian Beliau keluar dengan membawa gelas sejumlah lebih banyak dari jumlah murid yang hadir. Masing-masing gelas berbeda-beda. dari yang paling murah sampai yang paling mahal. Lalu belia masuk lagi dan keluar dengan membawa satu poci teh yang aromanya sangat nikmat. "Silakan ambil masing-masing satu gelas, lalu tuangkan teh ke dalam gelas yang telah kalian pilih." Kata Guru.
Para murid pun mengambil gelas masing-masing. Mereka saling memilih gelas yang berharga mahal. Sementara gelas yang berharga paling murah, tidak ada yang mengambilnya.
Sang Guru kemudian tersenyum seraya mempersilakan murid-muridnya menikmati teh buatannya.
Setelah mereka selesai meminumnya, Sang Guru bertanya " Bagaimana rasa teh buatanku? apakah senikmat aromanya?" "Ya, Guru" Jawab mereka.
"Itulah hakekat bahagia. Menikmati isi yang ada dalam gelas, bukan dari gelas pebungkusnya. Meskipun kalian tadi mengambil gelas yan bebeda indah luarnya, berbeda harganya. Tapi kenikmatan isi teh tetaplah sama. Karena diambil dari poci yang sama dalam satu waktu. Bahagia BUKAN DILIHAT DARI BUNGKUSNYA, TAPI TERGANTUNG BAGAIMANA KITA MENIKMATI ISI HIDUP yang kita jalani." Sang Guru mengakhiri pembicaraanya
Kadang kita melihat sepertinya orang lain hidupnya lebih enak, nyaman, dan serba kecukupan dalam memenuhi kebutuhan dan keinginan. Namun semua itu hanyalah bungkus yang kita lihat. Pun begitu adanya. Orang mungkin akan melihat kita hidup lebih enak, padahal sebenarnya semua orang bisa merasa bahagia, tergantung dari bagaimana bisa memunculkan "rasa" bahagia dalam diri sendiri.
Teringat saya pada sebuah kisah dari sebuah siaran radio, tentang Arti Bahagia.
Alkisah pada suatu ketika, belasan orang sukses, yang sudah mapan secara materi, berkumpul dan berencana menemui guru mereka di masa lampau. Mereka merasa orang-orang di sekitar mereka menganggap diri mereka sukses. Tapi mereka tidak pernah merasakan bahagia.
Ahirnya ketika mereka menghadap sang Guru. "Wahai Guru, kami ini adalah murid-muridmu dahulu. Kami beruntung mendapat ilmu dari Guru, sehingga sekarang kami menjadi orang. Namun ada yang kurang pada diri kami. Kami tidak pernah merasa bahagia." kata salah seorang dari mereka. "Tunggu sebentar" jawab sang Guru, seraya meninggalkan mereka di ruang tamu. Sang Gurulalu masuk ke dalam rumah. Tak lama kemudian Beliau keluar dengan membawa gelas sejumlah lebih banyak dari jumlah murid yang hadir. Masing-masing gelas berbeda-beda. dari yang paling murah sampai yang paling mahal. Lalu belia masuk lagi dan keluar dengan membawa satu poci teh yang aromanya sangat nikmat. "Silakan ambil masing-masing satu gelas, lalu tuangkan teh ke dalam gelas yang telah kalian pilih." Kata Guru.
Para murid pun mengambil gelas masing-masing. Mereka saling memilih gelas yang berharga mahal. Sementara gelas yang berharga paling murah, tidak ada yang mengambilnya.
Sang Guru kemudian tersenyum seraya mempersilakan murid-muridnya menikmati teh buatannya.
Setelah mereka selesai meminumnya, Sang Guru bertanya " Bagaimana rasa teh buatanku? apakah senikmat aromanya?" "Ya, Guru" Jawab mereka.
"Itulah hakekat bahagia. Menikmati isi yang ada dalam gelas, bukan dari gelas pebungkusnya. Meskipun kalian tadi mengambil gelas yan bebeda indah luarnya, berbeda harganya. Tapi kenikmatan isi teh tetaplah sama. Karena diambil dari poci yang sama dalam satu waktu. Bahagia BUKAN DILIHAT DARI BUNGKUSNYA, TAPI TERGANTUNG BAGAIMANA KITA MENIKMATI ISI HIDUP yang kita jalani." Sang Guru mengakhiri pembicaraanya
MULAI MASUK BLOG
Ternyata saya pernah mencoba membuat Blog, lama tak pernah atau tepatnya belum bisa membua. Akhirnya kini bisa membuka, semoga bisa menjadi ajang currahan isi hati, agar tak menyesakkan dada dan pikiran. Tapi untuk posting pertama ini, cukuplah sebagai perkenalan saja. Salam Kenal
Foto-foto ketika di seputaran kota Makkah Tahun 2013
Langganan:
Postingan (Atom)


